“Yā Sayyidal-Mursalīn”: Seruan Ruhani kepada Penghulu Para Utusan

🌿 Teks Arab:

يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ

📜 Transliterasi Latin:

Yā Sayyidal-Mursalīn

🌌 Makna Harfiah:

“Wahai penghulu (pemimpin) para rasul!”


1. Seruan Penuh Cinta dan Kesadaran Ruhani

Kata “Yā” adalah panggilan. Ia bukan sekadar tata bahasa, tetapi jeritan rasa. Dalam dunia ruhani, panggilan “Yā” adalah bentuk kehadiran batin. Bukan memanggil seseorang yang jauh, melainkan mengakui kehadiran yang selalu dekat dalam dimensi ruh.

Ketika seorang salik mengucap “Yā Sayyidal-Mursalīn”, ia sedang membuka hati dan menengadah ruhnya kepada pusat semesta kenabian. Ini adalah panggilan dari mahabbah (cinta), ta’zhīm (pengagungan), dan i‘tirāf (pengakuan) atas maqam termulia.


2. Makna “Sayyid”: Pemimpin dalam Hakikat dan Rasa

“Sayyid” berasal dari akar kata saada – yasūdu, yang bermakna memimpin, mengayomi, dan menjadi rujukan utama. Dalam dimensi lahir, Nabi ﷺ adalah pemimpin umat manusia. Tapi dalam dimensi batin, beliau adalah:

  • Sayyidul Qulūb (Pemimpin hati-hati para auliya)
  • Sayyidul Arwāḥ (Pemimpin ruh-ruh yang mencari Allah)
  • Sayyidut Tājalliyāt (Pemimpin manifestasi Ilahi di alam semesta)

Dalam thoriqot, kata “Sayyid” bukan sekadar pemimpin administratif, tapi pemegang rahasia Ilahi yang membawa nur tauhid dari langit ke bumi dan dari bumi ke hati.


3. “Al-Mursalīn”: Para Rasul dan Puncaknya

“Al-Mursalīn” adalah jamak dari mursal—para rasul yang diutus Allah dengan wahyu. Mereka semua agung, mulia, dan membawa cahaya.

Namun, Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai:

“Imāmul Anbiyā wa al-Mursalīn”
(Imamnya para nabi dan rasul)

Dalam Sholawat Qubro, kata ini bukan hanya pengakuan bahwa beliau penutup risalah, tapi bahwa beliau adalah poros dari semua jalan kenabian. Jalan Nabi Adam sampai Isa semuanya bermuara dan menyatu dalam maqam Muhammad ﷺ.


4. Tafsir Rasa: Memanggil Sumber Cahaya

Dalam tajribah dzauqiyyah (pengalaman rasa), lafaz “Yā Sayyidal-Mursalīn” adalah seperti memanggil matahari ruhani. Cahaya Rasulullah ﷺ bukan sekadar warisan sejarah, tapi masih terus bersinar bagi ruh-ruh yang menempuh jalan makrifat. Maka ketika lafaz ini dibaca dalam sholawat atau munajat:

  • Terasa hadirnya cahaya yang membimbing dari dalam
  • Muncul getaran rasa ta’zhīm, hormat yang dalam
  • Jiwa seperti ditarik naik menuju maqam pengenalan

5. Mengapa Kita Perlu Mengulang Lafaz Ini

Menyebut “Yā Sayyidal-Mursalīn” bukan hanya memperindah doa. Ia adalah bentuk ittishāl (koneksi ruhani) kepada Qutb al-Wujūd—poros keberadaan makhluk. Semakin dalam kita merasakan lafaz ini, semakin kuat tarikan ruh kepada jalan Rasul.

Bagi para salik, ini juga latihan kehadiran: merasa bahwa Rasul hadir dalam cahaya rohaninya, mengayomi dan membimbing ruh-ruh umat hingga hari kiamat.


🌺

“Yā Sayyidal-Mursalīn” adalah zikir cinta dan pengakuan. Ia bukan hanya sapaan lisan, tapi ketundukan ruh kepada maqam yang tak tertandingi. Bila dibaca dengan kehadiran hati, lafaz ini mampu membuka tirai dunia, menghubungkan ruh dengan Cahaya Muhammad ﷺ—yang menjadi pintu kita kepada Allah ﷻ.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca