“Yā Sayyidan-Nabiyyīn” — Seruan Kepada Penghulu Para Nabi

🌿 Teks Arab:

يَا سَيِّدَ النَّبِيِّينَ

📜 Transliterasi Latin:

Yā Sayyidan-Nabiyyīn

🌌 Makna Harfiah:

“Wahai penghulu para nabi!”


1. Perbedaan “Nabiyyīn” dan “Mursalīn”

Sebelumnya kita telah menyebut “Yā Sayyidal-Mursalīn” (penghulu para rasul). Sekarang kita memanggil beliau sebagai “Sayyidan-Nabiyyīn”—penghulu para nabi.

Perbedaan mendasar:

LafazArti UmumTugas Khusus
NabiHamba yang diberi wahyuUntuk diri sendiri atau umat terdahulu
RasulNabi yang diberi misi kerasulanDiutus kepada umat tertentu dengan syari’at baru

Namun, Rasulullah ﷺ menghimpun keduanya:

Beliau adalah Nabi terakhir dan Rasul penutup.
Bahkan beliau adalah akar cahaya dari semua nabi yang datang sebelumnya.


2. Makna “Sayyid” dalam Konteks Nubuwah

Kata Sayyid di sini menunjukkan:

  • Pemimpin para nabi dari segi maqam ruhani
  • Induk semua risalah kenabian
  • Kunci penyempurna semua syari’at terdahulu

Dalam hadits sahih, Nabi ﷺ bersabda:

“Ana sayyidu waladi Ādama yawmal qiyāmah wa lā fakhr.”
“Aku adalah penghulu anak-anak Adam pada hari kiamat, dan aku tidak sombong.” (HR. Muslim)

Ini bukan klaim duniawi, tapi penegasan ruhani bahwa setiap kenabian bermuara pada satu titik: Nur Muhammad.


3. Tafsir Rasa: Lafaz Penuh Kasih yang Menarik Ruh

Membaca “Yā Sayyidan-Nabiyyīn” dengan rasa adalah seperti menyerahkan diri kepada sumber ilmu langit. Ia adalah panggilan yang:

  • Mengakui bahwa semua jalan para nabi—dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa—semuanya bersatu dan berujung pada Rasulullah ﷺ.
  • Menumbuhkan rasa ittiba’ (mengikuti), bukan hanya mahabbah.
  • Membuat ruh merasa dituntun langsung oleh pembawa risalah paling sempurna.

Dalam dzauq, seruan ini adalah bentuk penyandaran batin kepada imam para ruh, pemimpin orang-orang yang diberi wahyu, dan pusat semua syari’at ilahiyah.


4. Mengapa Lafaz Ini Penting dalam Sholawat Qubro?

Dalam Sholawat Qubro, lafaz-lafaz seperti ini tidak muncul sembarangan. Ia menyusun maqamat ruhani kita secara bertahap:

  1. Sayyidal-Mursalīn → mengenalkan beliau sebagai pemimpin risalah
  2. Sayyidan-Nabiyyīn → membawa ruh kita ke asal usul cahaya kenabian

Maka, ketika hati menyebut “Yā Sayyidan-Nabiyyīn”, ia sedang melatih diri:

  • Untuk mengenal jalur cahaya kenabian
  • Untuk meneguhkan posisi Rasulullah sebagai pusat teladan ruhani
  • Untuk menyambung sanad rasa dari para nabi terdahulu melalui satu pintu: Muhammad ﷺ

🌺

“Yā Sayyidan-Nabiyyīn” adalah dzikir untuk menanam ittiba’ (mengikuti) dan syafā‘ah (harapan pertolongan). Ia bukan hanya penyebutan maqam, tapi kunci keterhubungan ruhani dengan seluruh jejak para nabi, yang semuanya bermuara kepada beliau ﷺ. Ini adalah titik simpul dari thariqah anbiya, jalan para nabi, yang dilanjutkan dalam bentuk thoriqot auliya’.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca