🌿 Teks Arab:
يَا سَيِّدَ الصِّدِّيقِينَ
📜 Transliterasi Latin:
Yā Sayyidas-Ṣiddīqīn
🌌 Makna Harfiah:
“Wahai pemimpin para shiddiqin”
1. Siapa Para Ṣiddīqīn?
Dalam istilah al-Qur’an dan ilmu tasawuf, ash-ṣiddīqīn (الصدِّيقين) adalah golongan tertinggi kedua setelah para nabi. Mereka bukan sekadar orang jujur secara lisan, tapi orang yang:
- Jujur dalam tauhid, dalam batin dan lahir
- Mengikuti kebenaran dengan penuh keyakinan
- Tidak ragu sedikit pun pada janji Allah dan Rasul-Nya
- Kokoh dalam keyakinan walau dunia runtuh
Contoh utama adalah:
Abu Bakr as-Ṣiddīq, yang mendapat gelar ini langsung dari Rasulullah ﷺ karena keimanannya yang mutlak, terutama saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
2. Makna “Sayyid” dalam Konteks Ini
Ketika kita mengatakan “Yā Sayyidas-Ṣiddīqīn”, kita sedang:
- Mengakui bahwa Rasulullah ﷺ adalah imamnya orang-orang yang jujur dalam hakikat.
- Menghadirkan bahwa semua maqam ṣidq—baik dalam amal, ilmu, atau rasa—berasal dari beliau ﷺ.
Karena dalam maqam rasa, kejujuran tertinggi (ṣidq al-a‘ẓam) hanya mungkin muncul bila ruh terhubung dengan Nur Muhammad. Maka siapa pun yang mencapai derajat ṣiddīq, sejatinya sedang meniti jalan Nabi melalui cahaya beliau.
3. Tafsir Rasa: Ṣidq sebagai Jalan Ma‘rifah
Ṣidq bukan sekadar berkata benar, tapi:
- Benar dalam orientasi ruh (taujih al-qalb)
- Benar dalam menyandarkan seluruh niat hanya kepada Allah
- Benar dalam menanggalkan dunia demi ridha Allah dan Rasul
Maka saat kita membaca “Yā Sayyidas-Ṣiddīqīn” dalam Sholawat Qubro, ruh kita seperti sedang berkata:
“Wahai Rasulullah, Engkaulah pembimbing kami dalam meniti kejujuran sejati. Tunjukilah kami jalan para ṣiddīq yang Engkau tuntun dengan cahayamu.”
4. Mengapa Lafaz Ini Penting dalam Sholawat Qubro?
Setelah mengenal Rasul sebagai:
- Pemimpin para rasul
- Pemimpin para nabi
Kini kita mengenalnya sebagai pemimpin orang-orang yang jujur dalam hakikat.
Ini memberi pesan bahwa:
- Sholawat Qubro bukan sekadar pujian, tapi juga jalan pembentukan maqam ruhani.
- Kita sedang dididik secara batin untuk menjadi ṣiddīq, bukan hanya pengikut pasif.
- Rasulullah ﷺ adalah imam pembimbing jiwa dalam menapaki jalan kejujuran ruhani yang murni dan dalam.
5. Refleksi untuk Salik dan Ahli Thoriqot
Jika seseorang tidak memiliki ṣidq dalam suluk, maka suluknya hanyalah gerak tanpa ruh.
Maka lafaz ini menjadi dzikir pengokoh niat, agar perjalanan ruhani kita tidak menyimpang oleh ego, riya, atau kehendak duniawi.
Dalam latihan dzikir rasa, lafaz ini bisa diulang dengan menghadirkan:
- Cahaya Rasul dalam maqam shidq
- Kehadiran ruhani para ṣiddīqīn yang mengikuti Rasul
- Harapan bahwa kita diterima masuk ke dalam barisan itu
🌺
“Yā Sayyidas-Ṣiddīqīn” adalah pengakuan batin bahwa Rasulullah ﷺ adalah poros dari semua kebenaran ruhani. Ia bukan sekadar pemimpin para nabi, tapi juga pemimpin umat yang menginginkan kebenaran murni dalam hati. Dengan mengulang lafaz ini, kita sedang membuka ruh untuk dibimbing agar teguh, lurus, dan jujur dalam mencintai Allah.



Tinggalkan komentar