إِرَادَتُكَ الِانْزِعَاجَ عَنِ الْأَكْوَانِ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِيهَا مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
Irādatuka al-inzi‘āja ‘anil-akwāni ma‘a iqāmati Allāhi iyyāka fīhā mina asy-syahwati al-khafiyyah.
“Keinginanmu untuk meninggalkan dunia, padahal Allah masih menempatkanmu di dalamnya, adalah bagian dari syahwat yang tersembunyi.”
Hikmah ini mengajarkan keseimbangan antara zuhud dan menerima takdir. Ada orang yang ingin sekali meninggalkan urusan dunia—pekerjaan, keluarga, tanggung jawab sosial—dengan alasan ingin fokus ibadah. Tapi jika Allah masih menempatkan kita di tengah urusan itu, berarti di situlah ladang ibadah kita. Ibnu ‘Athaillah mengingatkan: jangan sampai “lari dari dunia” justru menjadi bentuk ego rohani—ingin terlihat suci, padahal itu hanyalah keinginan diri yang dibungkus spiritualitas.
Penerapan dalam Kehidupan
Contoh Umum (Masyarakat)
Di tengah masalah sosial—kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan—ada sebagian kelompok yang memilih menarik diri total dari kehidupan publik dengan alasan “dunia ini kotor”.
- Jika hikmah ini diterapkan: Masyarakat memahami bahwa keterlibatan aktif dalam memperbaiki kondisi sosial adalah bagian dari ibadah. Aktivis, pengusaha, guru, dan pejabat yang amanah tetap bekerja di bidangnya sambil menjaga hati dari cinta dunia yang berlebihan.
- Jika diabaikan: Banyak orang baik justru meninggalkan ruang-ruang strategis, sehingga posisi penting diisi oleh mereka yang tidak peduli pada nilai moral. Akibatnya, kerusakan sosial semakin parah.
Contoh Khusus (Perjalanan Seorang Salik)
Seorang salik merasa ingin meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke pesantren untuk fokus ibadah, padahal keluarganya masih bergantung pada penghasilannya.
- Jika hikmah ini diterapkan: Ia tetap bekerja dengan niat mencari nafkah halal sebagai ibadah, sambil memperbanyak dzikir di sela-sela aktivitas. Ia sadar, melayani keluarga adalah bagian dari jalan menuju Allah.
- Jika diabaikan: Ia memaksakan diri keluar dari pekerjaannya, lalu keluarganya kesulitan. Beban hidup justru membuatnya gelisah, dan ibadahnya pun terganggu.
💡 Pelajaran inti:
Untuk masyarakat: Jangan tinggalkan peran penting di tengah umat hanya demi citra zuhud.
Untuk salik: Jangan lari dari ladang amal yang Allah tetapkan untukmu. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tapi untuk dikelola dengan hati yang terikat pada-Nya.



Tinggalkan komentar