🌿 Kajian Hikmah 2 – Kitab Al-Hikam

إِرَادَتُكَ الِانْزِعَاجَ عَنِ الْأَكْوَانِ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِيهَا مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ

Irādatuka al-inzi‘āja ‘anil-akwāni ma‘a iqāmati Allāhi iyyāka fīhā mina asy-syahwati al-khafiyyah.

“Keinginanmu untuk meninggalkan dunia, padahal Allah masih menempatkanmu di dalamnya, adalah bagian dari syahwat yang tersembunyi.”

Hikmah ini mengajarkan keseimbangan antara zuhud dan menerima takdir. Ada orang yang ingin sekali meninggalkan urusan dunia—pekerjaan, keluarga, tanggung jawab sosial—dengan alasan ingin fokus ibadah. Tapi jika Allah masih menempatkan kita di tengah urusan itu, berarti di situlah ladang ibadah kita. Ibnu ‘Athaillah mengingatkan: jangan sampai “lari dari dunia” justru menjadi bentuk ego rohani—ingin terlihat suci, padahal itu hanyalah keinginan diri yang dibungkus spiritualitas.

Penerapan dalam Kehidupan

Contoh Umum (Masyarakat)

Di tengah masalah sosial—kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan—ada sebagian kelompok yang memilih menarik diri total dari kehidupan publik dengan alasan “dunia ini kotor”.

  • Jika hikmah ini diterapkan: Masyarakat memahami bahwa keterlibatan aktif dalam memperbaiki kondisi sosial adalah bagian dari ibadah. Aktivis, pengusaha, guru, dan pejabat yang amanah tetap bekerja di bidangnya sambil menjaga hati dari cinta dunia yang berlebihan.
  • Jika diabaikan: Banyak orang baik justru meninggalkan ruang-ruang strategis, sehingga posisi penting diisi oleh mereka yang tidak peduli pada nilai moral. Akibatnya, kerusakan sosial semakin parah.
Contoh Khusus (Perjalanan Seorang Salik)

Seorang salik merasa ingin meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke pesantren untuk fokus ibadah, padahal keluarganya masih bergantung pada penghasilannya.

  • Jika hikmah ini diterapkan: Ia tetap bekerja dengan niat mencari nafkah halal sebagai ibadah, sambil memperbanyak dzikir di sela-sela aktivitas. Ia sadar, melayani keluarga adalah bagian dari jalan menuju Allah.
  • Jika diabaikan: Ia memaksakan diri keluar dari pekerjaannya, lalu keluarganya kesulitan. Beban hidup justru membuatnya gelisah, dan ibadahnya pun terganggu.

💡 Pelajaran inti:

Untuk masyarakat: Jangan tinggalkan peran penting di tengah umat hanya demi citra zuhud.

Untuk salik: Jangan lari dari ladang amal yang Allah tetapkan untukmu. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tapi untuk dikelola dengan hati yang terikat pada-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca