📖 Kajian Hikmah 1 – Kitab Al-Hikam

مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

Min ‘alāmāti al-i‘timādi ‘alal-‘amali nuqṣānu ar-rajā’i ‘inda wujūdi az-zalal.

“Di antara tanda seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya harapan ketika ia terjatuh dalam kesalahan.”

Hikmah ini mengajarkan bahwa amal hanyalah kendaraan, bukan tujuan akhir. Jika kita terlalu menggantungkan harga diri dan keselamatan pada amal, maka ketika tergelincir, kita akan kehilangan harapan. Ibnu ‘Athaillah mengingatkan: yang menjadi sandaran sejati adalah Allah, bukan amal itu sendiri. Amal adalah persembahan, rahmat-Nya adalah penentu.

Penerapan dalam Kehidupan

Contoh Umum (Masyarakat)

Bayangkan sebuah lembaga sosial yang selama bertahun-tahun membantu fakir miskin. Suatu hari, terungkap ada kesalahan manajemen dana.

  • Jika hikmah ini diterapkan: Masyarakat tetap menuntut perbaikan dan transparansi, tapi tidak menghapus semua kebaikan yang telah dilakukan. Ada ruang untuk memperbaiki kesalahan dan melanjutkan misi sosial.
  • Jika diabaikan: Lembaga itu langsung diboikot total, semua kebaikan masa lalu dihapus dari ingatan publik. Akibatnya, semangat orang untuk membangun lembaga sosial melemah karena takut dihancurkan oleh satu kesalahan

Contoh Khusus (Perjalanan Seorang Salik)

Seorang salik yang telah istiqamah shalat malam bertahun-tahun, suatu malam tertidur dan terlewat qiyamul lail.

  • Jika hikmah ini diterapkan: Ia tidak larut dalam rasa bersalah berlebihan. Ia segera bertaubat, lalu kembali berusaha lebih tekun, sambil menyadari bahwa kekuatan untuk bangun malam adalah karunia Allah, bukan semata hasil usahanya.
  • Jika diabaikan: Ia merasa seluruh perjalanan spiritualnya sia-sia, lalu mulai malas beribadah, bahkan meninggalkan amalan sunnah lainnya.

💡 Pelajaran inti:

Untuk masyarakat: Jangan hapus semua kebaikan hanya karena satu kesalahan.

Untuk salik: Jangan biarkan satu kelalaian memutus jalanmu menuju Allah. Rahmat-Nya selalu lebih luas dari dosamu.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca