مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ
Min ‘alāmāti al-i‘timādi ‘alal-‘amali nuqṣānu ar-rajā’i ‘inda wujūdi az-zalal.
“Di antara tanda seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya harapan ketika ia terjatuh dalam kesalahan.”
Hikmah ini mengajarkan bahwa amal hanyalah kendaraan, bukan tujuan akhir. Jika kita terlalu menggantungkan harga diri dan keselamatan pada amal, maka ketika tergelincir, kita akan kehilangan harapan. Ibnu ‘Athaillah mengingatkan: yang menjadi sandaran sejati adalah Allah, bukan amal itu sendiri. Amal adalah persembahan, rahmat-Nya adalah penentu.
Penerapan dalam Kehidupan
Contoh Umum (Masyarakat)
Bayangkan sebuah lembaga sosial yang selama bertahun-tahun membantu fakir miskin. Suatu hari, terungkap ada kesalahan manajemen dana.
- Jika hikmah ini diterapkan: Masyarakat tetap menuntut perbaikan dan transparansi, tapi tidak menghapus semua kebaikan yang telah dilakukan. Ada ruang untuk memperbaiki kesalahan dan melanjutkan misi sosial.
- Jika diabaikan: Lembaga itu langsung diboikot total, semua kebaikan masa lalu dihapus dari ingatan publik. Akibatnya, semangat orang untuk membangun lembaga sosial melemah karena takut dihancurkan oleh satu kesalahan
Contoh Khusus (Perjalanan Seorang Salik)
Seorang salik yang telah istiqamah shalat malam bertahun-tahun, suatu malam tertidur dan terlewat qiyamul lail.
- Jika hikmah ini diterapkan: Ia tidak larut dalam rasa bersalah berlebihan. Ia segera bertaubat, lalu kembali berusaha lebih tekun, sambil menyadari bahwa kekuatan untuk bangun malam adalah karunia Allah, bukan semata hasil usahanya.
- Jika diabaikan: Ia merasa seluruh perjalanan spiritualnya sia-sia, lalu mulai malas beribadah, bahkan meninggalkan amalan sunnah lainnya.
💡 Pelajaran inti:
Untuk masyarakat: Jangan hapus semua kebaikan hanya karena satu kesalahan.
Untuk salik: Jangan biarkan satu kelalaian memutus jalanmu menuju Allah. Rahmat-Nya selalu lebih luas dari dosamu.



Tinggalkan komentar