Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari adalah salah satu mutiara tasawuf yang terus memantulkan cahaya hikmah hingga hari ini. Setiap kalimatnya mengajak kita menimbang ulang cara kita memandang dunia, amal, dan hubungan kita dengan Allah. Hikmah ke-3 ini berbicara tentang tawakal yang benar dan bahaya syahwat tersembunyi yang sering menyamar dalam pakaian kesalehan.
إِرَادَتُكَ التَّجَرُّدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
Irādatuka at-tajarruda ma‘a iqāmati Allāhi iyyāka fil-asbābi mina asy-syahwati al-khafiyyah
“Keinginanmu untuk hidup tanpa sebab, padahal Allah masih menempatkanmu dalam sebab-sebab itu, adalah bagian dari syahwat yang tersembunyi.”
🌱 Makna dan Penjelasan
Hikmah ini mengingatkan kita bahwa Allah menempatkan manusia di dunia dengan hukum sebab-akibat. Kita makan karena ada makanan, kita mendapat ilmu karena belajar, kita memperoleh rezeki karena berusaha. Ada orang yang ingin meninggalkan semua sebab ini dengan alasan “ingin tawakal penuh kepada Allah”. Padahal, jika Allah masih menempatkan kita di dalam sebab-sebab itu, meninggalkannya bukanlah tawakal, melainkan bentuk syahwat tersembunyi—keinginan diri yang dibungkus dengan label spiritual.
Tawakal sejati bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi berusaha sebaik mungkin sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.
🌍 Penerapan dalam Kehidupan
A. Pelajaran untuk Masyarakat
Dalam kehidupan sosial, kita sering mendengar orang berkata, “Rezeki sudah diatur, jadi tak perlu bekerja keras.”
- Jika hikmah ini diterapkan: Masyarakat tetap menjaga etos kerja, berusaha dengan cara yang halal, dan saling menguatkan. Petani tetap menanam, pedagang tetap berdagang, guru tetap mengajar—semua sambil yakin bahwa hasilnya di tangan Allah.
- Jika diabaikan: Akan muncul budaya malas, bergantung pada bantuan, dan kehilangan kemandirian. Beban sosial meningkat, dan masyarakat menjadi lemah.
B. Pelajaran untuk Perjalanan Seorang Salik
Seorang salik yang sedang menempuh jalan ruhani merasa ingin berhenti bekerja agar bisa fokus ibadah.
- Jika hikmah ini diterapkan: Ia tetap bekerja atau berusaha sesuai kemampuannya, sambil menjaga hati agar tidak bergantung pada pekerjaannya. Ia sadar, pekerjaannya hanyalah sebab, sedangkan pemberi rezeki sejati adalah Allah.
- Jika diabaikan: Ia meninggalkan pekerjaannya tanpa persiapan, lalu kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Tekanan ekonomi membuatnya gelisah, dan ibadahnya pun terganggu.
💡 Pelajaran Inti
- Untuk masyarakat: Usaha adalah bagian dari ibadah. Meninggalkan sebab-sebab yang Allah tetapkan bukanlah tanda tawakal, melainkan bentuk syahwat tersembunyi.
- Untuk salik: Tetaplah berada di jalan sebab yang Allah tetapkan untukmu, sambil menjaga hati agar hanya bergantung pada-Nya.
🌿 Penutup: Hikmah ke-3 ini mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi untuk dikelola dengan hati yang selalu terikat pada Allah. Dengan begitu, kita tidak terjebak dalam kemalasan yang dibungkus kesalehan, dan tidak pula tenggelam dalam kesibukan yang melupakan Tuhan.



Tinggalkan komentar