🌿 Teks Arab

يَا سَيِّدَ الرَّاكِعِيْنَ

📜 Transliterasi Latin:Yā Sayyidar-Rāki‘īn

Makna Harfiah“Wahai pemimpin para yang rāki‘īn — mereka yang selalu bersujud dan tunduk dalam kehadiran batin!”

🧠 1. Siapa Itu Para Rāki‘īn?Lafaz rāki‘īn bermakna “mereka yang ruku’ dan sujud” — simbol orang-orang yang selalu tunduk, rendah hati, dan menyerahkan segala keberadaan kepada Allah tanpa ada yang tersisa dari keakuan diri. Mereka bukan sekadar melakukan gerakan fisik, tapi mereka menghayati sujudnya hayat, yaitu sujud rasa yang meluruhkan segala kehendak selain kehendak Allah di dalam hati.

🌀 2. Tafsir Rasa: Mengapa Kita Memanggil Nabi ﷺ Sebagai Sayyid Para Rāki‘īnDalam tangkal ruhani, panggilan ini bukan hanya pujian. Ini adalah sebuah pengakuan batin bahwa:Rasulullah ﷺ adalah imam dan teladan para hamba yang tunduk paling sempurna kepada Allah — bukan sekadar dalam gerak, tetapi dalam hati yang sujud tiada henti.Para rāki‘īn sejati adalah mereka yang melepaskan semua kecintaan selain kecintaan kepada Allah dan Rasul ﷺ, sehingga seluruh jiwa menjadi ruang sujud yang tak pernah kering.Ketika kita membaca Yā Sayyidar-Rāki‘īn, ruh kita diundang untuk menyelaraskan segala bagian diri dengan maqam sujud batin itu — bukan sekadar menganggukkan tubuh, tapi menghadirkan kehadhiran batin dalam setiap sujud rasa.Dalam dzauq, seruan ini seperti suara jiwa yang merunduk total kepada Allah melalui cahaya syafa’at Nabi ﷺ, mengangkat tabir ego, dan menyadarkan hati bahwa sujud kita adalah cermin dari sujud Nabi ﷺ dalam maqam zuhud dan tawadhuk yang hakiki.

🌿 3. Mengapa Lafaz Ini Diletakkan Setelah “Ṣiddīqīn”?Setelah Sayyidas-Ṣiddīqīn — yang menegaskan kejujuran batin dan orientasi ruhani yang lurus — selanjutnya kita diarahkan kepada bentuk nyata dari kejujuran itu: sujud total.Dengan kata lain:Ṣiddīqīn mengokohkan jiwa dalam kebenaran;Rāki‘īn membawa kebenaran itu menjadi tunduknya ruh kepada Yang Maha Kuasa dalam setiap detik kehidupan — suatu maqam di mana seorang salik mengalami rendah hati yang sejati dalam menghadirkan rasa kepada Allah.Kedua maqam ini merupakan bagian integral dari suluk — dari keyakinan yang murni (ṣidq) ke tindakan hati yang paling lembut dan paling tunduk (rāki‘īn) dalam dzikir dan doa.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca