Waktu tetap membelah segalanya
bahkan yang berusaha
tampak utuh.
Kita pernah menghitung hari
dari bunyi yang tergantung
di dinding ruang belajar
dan menyebut esok
tanpa perlu alasan.
Sekarang bunyi itu masih sama
hanya saja
hari tidak lagi kita panggil
dengan suara keras.
Aku mengenali banyak hal
dari kebiasaan kecil:
jarak benda
arah duduk
cara berhenti sebelum selesai.
Beberapa orang juga tahu
kapan diam
lebih rapi
daripada penjelasan.
Kota menambah nama
jalan bertambah cabang
namun selalu ada
ruang yang tidak ditandai
dan tidak meminta didatangi.
Kadang sebuah kalimat
cukup disusun
lalu ditinggalkan
bukan karena keliru
melainkan karena
ia sudah sampai
pada pengertiannya sendiri.
Ada tanya
yang tetap utuh
justru karena
tidak pernah dikirim.
Kita tidak kehilangan apa pun.
Beberapa hal
hanya berubah fungsi—
seperti jam
yang tetap berdetak
meski tak lagi ditanya
pukul berapa.
-catatan malam-



Tinggalkan komentar